var id = "fed33c2a9876f8b1c59f2792927ebf55e352fa6b"; ?php body_class(); ?>>

Ada yang Anggap Memalukan Begini Media Internasional Memberitakan Pilpres Amerika Serikat

0 Comments

Pilpres Amerika Serikat 2020 menjadi momentum yang tak terlupakan dalam sejarah pemilihannya. Tak hanya warga Amerika Serikat, seluruh dunia turut mengamati dinamika Pilpres di negara adidaya tersebut. Kampanye oleh petahana Donald Trump dan mantan wakil presiden AS, Joe Biden, di tengah pandemi yang belum pernah terjadi sebelumnya memberi dunia luar wawasan tentang masalah yang penting bagi pemilih Amerika.

Pemungutan suara juga menyoroti polarisasi politik yang telah memecah para pemilih Amerika. Pilpres Amerika Serikat 2020 dianggap penting, karena presiden berikutnya tidak hanya akan membentuk masa depan negara, tetapi juga lanskap politik internasional. Hal itu menjadi fokus di seluruh mediainternasional di dunia.

Berikut ringkasan tentang apa yang media asing beritakan dan pikirkan tentang Pilpres Amerika Serikat 2020 pada 3 November 2020, dilansir : Dalam memberitakan Pilpres Amerika Serikat 2020, media Inggris fokus pada kemungkinan hasil pemilu. Beberapa media di negara ini juga menyoroti konflik yang berlarut larut atas perhitungan suara, dan bahkan potensi kerusuhan di jalanan pasca pengumuman hasil Pemilu.

Surat kabar sayap kiri, Guardian, membuat tajuk utama liputannya tentang pemilihan dan jam jam terakhir kampanye para kandidat. Guardian juga memberitakan twit Donald Trump pada Senin lalu yang diberi label 'menyesatkan' oleh Twitter. Twit Trump menyebut, mungkin akan ada kekerasan di jalanan jika penghitungan suara tidak dipersingkat di Pennsylvania.

Sementara itu, surat kabar Telegraph yang condong sayap kanan juga memimpin tajuk utamanyatentang kekhawatiran atas hasil pemilihan yang disengketakan. Liputannya berjudul "Amerika bersiap menghadapi kekerasan akibat pemilu dengan toko toko ditutup dan Garda Nasional bersiaga." Pilpres Amerika Serikat 2020 juga mendominasi liputan politikdunia di media Eropa pada Selasa (2/11/2020).

Sebagian besar media Eropa memberitakan panduan dalam pemungutan suara dan opini yang menimbang plus minus pemerintahan Biden dan Trump bagi hubungan internasional, terutama hubungan Eropa dengan AS setelah renggangnya hubungan Trump dan para pemimpin benua sejak empat tahun lalu. Di Prancis, editorial surat kabar Le Figaro berjudul "Un suspense américain" (Ketegangan Amerika) mencatat bahwa "di luar final Piala Dunia (sepak bola), hampir tidak ada ketegangan di planet ini yang sebanding dengan pemilihan presiden AS." Harian Italia, La Repubblica, menonjolkan liputannya yang mengatakan bahwa dunia sedang menunggu hasil pemungutan suara.

Editor juga menulis tentang perlunya "merekonstruksi" Amerika. Situs berita keuangan Jerman, Handelsblatt, berfokus pada bagaimana pemilu akan mempengaruhi pasar keuangan. Sementara itu, liputan Pemilu dalam surat kabar tabloid Bild menyoroti apa yang disebutnya "Perjuangan untuk Amerika" di antara para kandidat.

Sedangkan, di surat kabar Die Welt, kepala koresponden kebijakan luar negeri, Clemens Wergin, bertanya dalam sebuah opini, "Apa yang tersisa Trump?" Pasalnya, ia percaya bahwa bagi banyak orang Amerika dan transatlantik di luar negeri, kepresidenan Trump adalah "mimpi buruk yang mereka harap akan terbangun darinya mulai tanggal 4 November." Mengingat tuduhan campur tangan Rusia dalam Pilpres AS 2016 dan tahun 2020, surat kabar Rusia menyoroti perspektif Rusia tentang pemungutan suara, dan bagaimana pemimpin AS berikutnya akan memengaruhi hubungan negaranya dengan Moskow.

Rossiskaya Gazeta menulis, kampanye presiden AS tahun 2020 yang "sangat memalukan, membuat dunia dalam ketegangan" telah berakhir. Sementara itu, liputan surat kabar Izvestia memimpin dengan berfokus pada bagaimana pemungutan akan mempengaruhi keseimbangan kekuasaan di Kongres, dan berbicara kepada para ahli bahwa turbulensi politik sangat tinggi. Surat kabar Rusia, Kommersant, membahas pentingnya kemenangan bagi para kandidat di negara bagian Pennsylvania yang merupakan medan pertempuran yang kritis.

Sedangkan, sebuah opini oleh kritikus, Sergei Strokan, membahas apakah Trump atau Biden yang lebih baik untuk Rusia. Pada akhirnya, Strokan berpendapat bahwa "ada semakin banyak alasan untuk sampai pada kesimpulan bahwa kita tidak membutuhkan Amerika untuk waktu yang lama, meskipun kita tidak secara terbuka mengakui hal ini." Eropa bukan satu satunya benua yang mengawasi Pilpres Amerika Serikat 2020 dengan cermat.

Amerika Latin juga berfokus pada persaingan tersebut, serta pentingnya suara Hispanik. Media online bernama El Pais menulis, suara Latin akan menentukan di Florida, Pennsylvania, dan Arizona. El Pais juga menyebut bahwa partisipasi pemilih Hispanik di beberapa negara bagian dapat membatalkan pemilhan presiden di AS.

Hubungan AS dengan Amerika Latin agak tegang, mengingat penentangan Trump terhadap imigrasi dan intervensi AS selama pemberontakan politik Venezuela 2019 melawan rezim sayap kiri Presiden Nicolas Maduro. Surat kabar di wilayah tersebut, termasuk Buenos Aires Times di Brasil, menyoroti bagaimana pemilu tersebut dapat menentukan fase selanjutnya dari hubungan AS Amerika Latin. Surat kabar Venezuela, El Universal, menyebut Pemilu AS sebagai "kampanye paling anomali dan bermusuhan di lautan ketidakpastian."

Sementara itu, surat kabar Brasil, Folha de S. Paolo, mencatat bahwa pemilu diperkirakan akan menghasilkan rekor jumlah pemilih, mengingat lebih dari 94 juta suara telah diberikan di AS sebelum 3 November 2020. Jumlah tersebut sudah melebihi atau mendekati total suara pada tahun 2016. Surat kabar itu juga menulis, pemerintahan Presiden Brasil, Jair Bolsonaro, masih percaya bahwa Trump akan kembali terpilih.

Di Asia, kantor berita China, Xinhua, berfokus pada pemungutan suara. Sebuah editorial di Global Times, surat kabar tabloid di China yang berada di bawah naungan surat kabar People's Daily Partai Komunis, menyebut Pilpres Amerika Serikat 2020 mengalihkan perjuangan melawan Covid 19. "Pemilihan presiden AS telah berdampak serius pada pencegahan Covid 19, menghasilkan pengaruh negatif yang tak terhitung," kata editorial itu.

"Pemerintahan Trump salah menilai epidemi awal tahun ini, yang menyebabkan ketidakmampuannya dalam memerangi virus." "Pemilu telah membuat pemerintahan Trump berpegang pada pendekatan yang salah," tulis editorial. Editorial tersebut menyimpulkan bahwa pertarungan epidemi dan Pemilu AS telah memberikan contoh yang buruk bagi dunia.

"Ini bukan hanya aib bagi kekuatan AS, tetapi juga bagi sistem liberal Amerika," editorial menuliskan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *