Sayit witha Article

Blog Sayit witha

Tag Archive : destinasi

Pembukaan Kembali Machu Picchu Diiringi Upacara Tradisional & Pertunjukan Cahaya

Peru secara bertahap menghidupkan kembali ekonomi dan pariwisatanya di tengah pandemi Covid 19. Situs arkeologi itu dibuka kembali untuk umum dengan upacara tradisional dan pertunjukan cahaya dan upacara syukur. Sebanyak 45 seniman lokal terlibat dalam oembukaan Machu Picchu.

Sementara itu, pesan tertulis dari orang orang di seluruh dunia diproyeksikan pada bangunan itu dengan tagar #MachuPicchuisBack. Saat pertama kali dibuka, turis yang boleh masuk dibatasi 30 persen dari kapasitas normal atau 675 pengunjung per hari. Rencananya, Machu Picchu akan terus dibuka dengan kapasitas yang berkurang di masa mendatang.

Acara tersebut dihadiri oleh Menteri Pariwisata Peru Rocio Barrios yang menobatkan Machu Picchu dengan istilah 'Safe Travels'. Istilah itu memastikan Machu Picchu dan wilayah sekitarnya, termasuk restoran lokal, hotel dan pusat transportasi, mematuhi langkah langkah kesehatan dan keselamatan yang ditingkatkan. "Hari ini saya bangga mengirimkan cap 'Safe Travels' ke Machu Picchu. Sekarang wisatawan sesegera mereka berpikir kembali melihat keajaiban dunia kita akan yakin bahwa protokol kesehatan yang ketat telah diterapkan di sini," jelasnya.

"Pariwisata kembali, secara bertanggung jawab dan bertahap," lanjut Barrios. Saat perbatasan Peru dibuka, penerbangan internasional dijadwalkan ke dan dari 25 kota besar di Amerika Utara, Tengah, dan Selatan. Untuk memasuki Peru, wisatawan harus menunjukkan hasil tes PCR dengan hasil negatif yang dilakukan tidak lebih dari 72 jam sebelum penerbangan.

Masker dan face shield wajib dipakai selama berada di bandara. Pertokoan diizinkan untuk buka kembali pada Oktober lalu dengan kapasitas 60 persen. Sementara restoran dan tempat makan dibuka dengan kapasitas 50 persen.

Untuk museum dan situs arkeologi di Peru beroperasi dengan kepasitas 50 persen dan dengan sejumlah protokol kesehatan. Agen perjalanan dan operator tur juga dapat memulai kembali bisnis mereka.

Lokasinya Tak Jauh dari Candi Borobudur Melihat Pesona Wisata Gethek Bambu di Magelang

Wisata Gethek Bambu di Magelang adalah satu destinasi baru yang tak jauh dari Candi Borobudur, Kabupaten Magelang. Wisata Gethek Bambu menawarkan pengalaman seru dengan mengajak wisatawan mengarungi Sungai Progo dengan getek. Bagi traveler yang belum tahu getek, getek adalah rakit yang terbuat dari bambu panjang yang disusun serupa perahu.

Wisata Gethek Bambu ini terletak di Dusun Pucungan, Desa Candirejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Jarak tempuh sekitar 10 menit atau lima kilometer dari Candi Borobudur. Keluar dari candi, melewati Jalan Wanurejo, menuju Jalan Candirejo. Lokasi juga bisa dicari di GoogleMap. Begitu sampai lokasi, wisatawan disambut dengan sejuk dan rindang tepian sungai.

Tak jauh dari dermaganya, terdapat tempuran atau tempat pertemuan antar sungai, yakni Sungai Progo dan Mbelan. Sungainya lebar. Airnya masih bersih. Tak ada sampah terlihat, dan hijau pepohonan terbentang sejauh mata memandang. Sebelum menjajal naik getek, wisatawan harus mengenakan masker dan taat menjaga jarak nanti.

Setelah mendaftar, mereka dipersilahkan naik getek. Ada tiga orang penyatang, atau orang yang mengoperasikan satang atau galah bambu untuk mendayung perahu getek. Perahu getek yang besar memiliki panjang 15 meter, kuat untuk menampung sebanyak 15 orang. Perahu getek yang lebih kecil, cukup untuk menampung tujuh orang penumpang. Selama 20 30 menit, wisatawan akan diajak mengarungi sekitaran Sungai Progo.

Tak hanya bisa menikmati keindahan Sungai Progo, wisatawan juga dapat menikmati santapan, langsung di atas perahu getek. Hidangan tradisional disediakan pengelola yang merupakan pemuda Dusun Pucungan. Mulai dari soto, bakso, mie ayam, lotek, sampai ayam ingkung. Minumannya paling pas dengan Kelapa Muda. Setelah puas bersantap ria di atas getek, pengunjung dipersilahkan menjajal satang atau galah untuk mengoperasikan getek.

Getek ini dulu adalah angkutan transportasi jaman dulu. Di mana, kakek nenek dulu menggunakan ini untuk menyeberang sungai. Panorama di sekitaran Wisata Getek Bambu ini memang indah. Paling cocok, naik getek saat pagi hari atau saat sore ketika matahari terbenam. Cahaya dari matahari terbenam akan terpancar lurus dengan aliran sungai, sehingga menimbulkan siluet yang cantik.

Salah seorang pengelola Wisata Getek Bambu, Hani Sasetya (35), mengatakan, wisata getek ini dulu sudah pernah ada pada tahun 2010, tetapi hilang karena terbawa banjir. Saat pandemi ini, banyak anak anak dan pemuda yang lebih banyak belajar dan bekerja dari rumah. Mereka pun tergagas untuk membuat lagi wisata getek ini. "Awalnya dulu sudah pernah ada pada tahun 2010, terus hilang terkena banjir. Dulu yang naik bule bule itu pada tahun 2010. Setelah pandemi ini, banyak anak anak yang pada di rumah. Ada yang bekerja dari rumah. Terus ada ide untuk bikin kegiatan membuat getek lagi," tutur Hani, saat ditemui di Wisata Getek Bambu, Minggu (20/9/2020).

Para pemuda yang tergabung dalam Gerakan Muda Mudi Pucungan Candirejo atau Gempar segera membikin getek ini. Tanpa modal sepersen pun dan bantuan bambu dari warga, mereka bergotong royong membuat perahu rakit dari bambu ini. Tak perlu waktu lama, getek bambu jadi dalam waktu dua hari. Pembuatan getek pada bulan Juli 2020 lalu. Wisatanya sendiri mulai beroperasi pada 18 Agustus 2020. "Ini bikinnya sekitar habis lebaran bulan Juni Juli 2020. Tapi mulai diresmikan pada 18 Agustus 2020. Geteknya baru ada dua. Kapasitas yang besar sebanyak 15 orang. Kapasitas getek yang kecil, tujuh orang penumpang. Panjangnya untuk getek ukuran besar 16 meter," kata Hani.

Setiap perjalanan, kurang lebih 20 30 menit berlayar. Satu rombongan terdiri dari enam orang cukup membayar Rp 30ribu saja. Tiga orang penyatang akan menemani para pengunjung selama menaiki getek. Pelampung untuk keamanan juga selalu dikenakan. "Rutenya dari sini ke atas sana, durasi sekitar 20 30 menit. Harganya Rp 30.000 per enam orang. Dioperasikan 2 3 orang. Nahkodanya menggunakan tenaga manusia. Memakai bambu panjang atau satang untuk menggerakkan gethek. Yang mengoperasikan satang, penyatang," katanya. Untuk paket makan dihargai dari Rp 25ribu sampai Rp 100ribu tergantung pesanan. Makanan mulai dari mie ayam, bakso, soto, lotek, bahkan sampai Ayam Ingkung. Minuman juga tersedia, seperti kelapa muda contohnya.

Sejak dibukanya, wisata Getek Bambu ini ramai didatangi wisatawan. Rata rata per hari Sabtu Minggu,bisa menerima 8 10 rombongan. Wisatawan paling banyak datang pada akhir pekan. Hari hari biasa, wisata getek tetap buka, kecuali Jumat libur. "Rata rata hari minggu per rombongan, sabtu minggu 8 10 rombongan. Banyak yang datang ke sini, gowes. Lalu, mereka naik getek, menyeberang ke seberang sana. Sepedanya dinaikkan ke atas getek," ujarnya.