Sayit witha Article

Blog Sayit witha

Tag Archive : kuliner

Ini 6 Kuliner Malam di Sekitar Alun-alun Kota Batu Ketan Susu hingga Lok-lok Satay

Saat liburan ke Malang, kurang lengkap jika tidak mampir ke Kota Batu. Di Alun alun Kota Batu, kamu bisa mencicipi beragam kuliner Kota Batu yang mengenyangkan. Salah satunya ketan susu yang dijajakan Pos Ketan Legenda 1967 yang begitu legendaris.

Berikut 6 kuliner malam di Kota Batu yang berlokasi di sekitar Alun alun Kota Batu. Ketan susu merupakan salah satu kuliner populer di Kota Batu. Kamu bisa mencicipi kuliner Kota Batu ini di Pos Ketan Legenda 1967.

Sesuai dengan namanya, kedai ini menjual beragam varian ketan susu. Mulai dari meses, keju, cokelat, durian, kacang, hingga ayam. Jika ingin hidangan yang lebih mengenyangkan, kamu bisa mencoba sate kelinci.

Sate kelinci di sini sama seperti sate pada umumnya yang berupa tusukan sate dan lontong yang disiram dengan sambal kacang. Di Kota Batu, sate kelinci banyak dijajakan di Jalan Raya Ir. Soekarno. Di sekeliling Alun alun Kota Batu banyak penjaja pentol bakar.

Pentol bakar merupakan bakso yang ditusuk menggunakan tusuk sate dan dibakar di atas bara api. Kelezatan pentol bakar bertambah karena diberi bumbu kecap. Bakso Malang juga bisa kamu temukan di sekitar Alun alun Kota Batu.

Jika ingin merasakan bakso Malang seperti warga lokal, kamu bisa mencicipi dari penjaja yang menggunakan gerobak. Kendati sederhana, rasa yang ditawarkan tidak kalah dari tempat makan ternama. Cilok atau aci dicolok di Alun alun Kota Batu disajikan dengan saus sedap.

Disebut cilok rempah, kudapan yang satu ini memiliki beragam varian. Mulai dari cilok daging, cilok rempah, hingga cilok jeletot yang pedas. Selanjutnya kamu juga bisa mencoba lok lok satay atau yang juga dikenal dengan nama satay Malaysia.

Bukan sate biasa, lok lok satay merupakan hidangan sate yang berupa olahan seafood. Kamu bisa mencoba sate udang, sate kepiting, sate cumi, sate baso ikan, sate sosis, dan lain sebagainya.

Sensasi Rasa Pedasnya Bikin Lidah Terbakar Ayam Gebug Tikungan

Makanan dengan bahan ayam memang sangat banyak. Namun Ayam Gebug Tikungan (AGT) berbeda. Letak perbedaannya, yakni sensasirasa pedasnya yangdijamin membuat terasa lidah terbakar, persis sepertitag line "Pedasnya Lebih Tajam Dari Tikungannya". Ayam Gebug Tikungan (AGT) ini menghadirkan cita rasa kuliner dari 3 suku yaitu kuliner khas Sunda, Jawa dan Padang, perpaduan masakan khas nusantara inilah yang membuat menu AGT memiliki sensasi yang berbeda dari yang lain.

Ayam dari AGT ini diolah melalui proses marinasi dengan menggunakan teknologi pangan yang berstandar nasional serta tersertifikasi halal, setelah itu ayamnya diungkep sampai bumbunya meresap kebagian dalam dan digoreng hingga krenyes saat dimakan. Lalu dipadukan dengan nasi liwet khas Sunda yang kaya dengan rempah rempah, dilengkapi sambal cerigis yang dibuat secara dadakan dengan cabai pilihan sehingga melibihi level kepedasan khas Padang. Untuk menambah cita rasa Nusantara, AGT memilki menu lalapan khas yaitu daun pepaya jepang, ditambah dengan tahu, tempe dan beragam sate sate (sate usus, kulit dan ceker ayam) seperti makanan khas Jawa.

AGT akan Grand Opening pertama kalinya di Cirasas, tepatnya di Alfa Midi Super Ciracas pada tanggal 26 27 September 2020. Namun, untuk yang tidak sabar ingin segera menikmati AGT bisa langsung datang ke Gerai Ayam Gebug Tikungan di Ciracas, Jakarta Timur dan tersedia juga di aplikasi Go Food dan Grab Food. Untuk Sobat AGT yang berada di Wilayah Tangerang Selatan dapat juga memesannya langsung melalui aplikasi online di Ayam Gebug Tikungan Palapa.

Ayam Gebug Tikungan ini didirikan oleh PT. DINASTI KREATIF INDONESIA, yang memiliki banyak usaha lainya di bidang Food and Bevarange. Disaat perusahaan pada bidang lain mengalami krisis akibat pandemi, PT. DINASTI KREATIF INDONESIA melalui AYAM GEBUG TIKUNGAN (AGT) menciptakan lapangan pekerjaan dan peluang bisnis. Owner PT Dinasti Kreatif Indonesia Maulana Hakim mengatakan, di dunia kuliner saat ini olahan ayam memang sangat banyak, namun Ayam Gebug Tikungan( AGT) membuat sensasi yang berbeda dari rasa pedasnya. "Pedasnya yang akan membuat lidah terbakar, serta menghadirkan cita rasa kuliner dari 3 suku yaitu kuliner Sunda, Jawa dan Padang, perpaduan masakan khas nusantara inilah yang membuat menu AGT memiliki sensasi yang berbeda dari yang lain," katanya.

Ayam dari AGT di olah dari proses marinasi dengan tehnologi pangan yang berstandar nasional serta di goreng di tempat hingga krenyes saat di makan, dipadu dengan nasi liwet khas sunda yang kaya akan rempah rempah. Juga dilengkapi juga dengan sambal cerigis yang di buat dadakan dengan cabai pilihan sehingga melebihi level kepedasan khas padang. "Ditambah sate seperti sate usus, sate kulit, sate ceker ayam) seperti makanan khas jawa, di tambah menu lalapan khas yaitu daun pepaya jepang di tambah tahu tempe," ujar Maulana.

Dengan harga 23 ribu rupiah, masyarakat dapat menikmati menu khas AGT di tambah minuman yang akan menambah nikmatnya sensasi kuliner ini.

Ini Sejarah di Balik Lezatnya Tengkleng Khas Solo Dibuat Sejak Zaman Penjajahan

Liburan ke Solo wajib mencoba kuliner khasnya yag lezat. Ada beragam kuliner khas Solo yang bisa dicicipi wisatawan. Satu kuliner khas Solo yang bisa traveler cicipi adalah tengkleng.

Banyak tempat makan di Solo menyediakan masakan tengkleng nikmat yang tidak banyak diketahui. Dikenal kenikmatannya, tengkleng menyimpan cerita sejarah memilukan. Heri Priyatmoko sejarawan asal Solo sekaligus Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma menjelaskan asal muasal sajian tengkleng.

Pada zaman penjajahan Jepang, rakyat Solo hidup sengsara. Bahan pangan yang menipis membuat kaum kecil terpaksa mengolah apapun menjadi sebuah santapan yang mengenyangkan perut. "Tengklenglahir dari buah kreativitaswongSolo dalam menghadapi situasi yang mencekik, tepatnya masa penjajahan Jepang," jelas Heri Priyatmoko saat dihubungi olehKompas.com, Selasa (26/11/2019). Lebih lanjutnya berikut fakta sejarah mengenai tengkleng, makanan khas Solo yang tak lepas dari kreativitas"wong cilik" :

Pakar hukum asal Solo, Mr. Soewidji (1973), menuturkan kehidupan sehari hari bertambah sulit saat itu. Jangankan rumah atau baju merah, kebutuhan pangan dan sandang saja kian susah dicari. "Sekadar untuk mengatasi kelaparan yang merajalela, bonggol pisang pun dipakai untuk bahan makanan," jelas Heri. Di tengah masa penjajahan, orang Solo memutar otak untuk tetap bertahan hidup dengan mengolah semua bahan pangan, termasuk limbah pangan, termasuk limbah kambing seperti tulang belulang dan jeroan kambing.

Umumnya tulang dan jeroan hewan tidak dimanfaatkan oleh orang dari ekonomi tinggi pada masa itu. Hanya berbekal limbah kambing seperti tulang belulang dan jeroan dari kambing, mau tak mau masyarakat Solo mengolah sajian tersebut untuk mengisi perut. Bagian daging kambing pada masa itu, dihidangkan untuk para tuan dan nyonya orang Belanda dan para priyayi.

Limbah pangan itu akhirnya disajikan dengan bumbu khas yang cukup rumit. Secara umum daftar resepnya adalah kelapa, jahe, kunyit, serai, daun jeruk segar, lengkuas, kayu manis, daun salam, cengkeh kering, bawang putih, bawang merah, garam dapur, kemiri, dan pala. Nama "tengkleng" juga mencerminkan kehidupan rakyat jelata di masa penjajahan dulu.

Saat itu, masyarakat hanya mampu membeli "limbah" dari kambing yaitu bagian tulang dan jeroan akhirnya mereka memasaknya dengan bumbu sederhana. Dinamakan tengkleng karena, jika saat ditaruh di piringnya orang miskin dulu akan mengeluarkan bunyikleng kleng kleng. Sebab piring masyarakat kebawah terbuat dari gebreng (semacam seng). Sehingga saat tulang itu ditaruh dipiring akan menimbulkan suara yang nyaring.

Biasanya tengkleng dinikmati dengan caradibrakotiataudikrikiti(bahasa Solo), artinya digigit bagian tulang sampai tak tersisa daging yang menempel. Sebab tulang yang dimasak masih memiliki daging, otot, lemak hingga tulang muda. Bagian itu yang sering kali diincar saat menikmati tengkleng. Tak hanya sensasi mem brakotitulang kambing saja. Sensasi makan tengkleng semakin nikmat saat menghisap secara sedikit demi sedikit sumsum yang ada di tulang kambing.

Selain itu, makan tengkleng semakin sedap saat mulai melepaskan serta mengigit perlahan sisa daging yang melekat di tulangnya. Cara pembuatan tengkleng melewati proses direbus hingga ekstrak tulang keluar. Rasanya pun jadi semakin gurih saat disantap, ditambah dengan kuah gulai yang mengandung banyak bumbu dan rempah. Tengkleng semakin lama dimasak kuahnya semakin enak, karena diekstraknya semakin lama.

Kemudian untuk menyempurnakan cita rasanya, dibumbui dengan bumbu gulai. Bumbu ini pun diharapkan akan mengurangi rasa yang tidak disukai dari air rebusan tulang yang cenderung amis.

Amankah Konsumsi Steak Daging Setengah Matang? Simak Penjelasannya

Ketika kamu memesan menu steak daging di restoran, pasti kamu akan ditanyakan tingkat kematangan yang kamu mau. Tingkat kematangan daging umumnya rare, medium rare, medium, dan well done. Kebanyakan pakar kuliner menyarankan kamu untuk menyantap steak medium rare karena tekstur daging yang lebih empuk dan rasanya lebih natural.

Namun banyak orang yang ragu untuk memesan daging “setengah matang” ini karenamasih ada cairan merah yang keluar dari daging, yang dikira darah. Cairan merah yang kamu lihat merembes keluar dari daging setengah matang setelah dipotong sebenarnya adalahmyoglobin. Myoglobin adalah protein yang menyimpan oksigen pada otot hewan mamalia – sama halnya seperti hemoglobin di dalam tubuh manusia.

Myoglobin inilah yang membuat daging berwarna merah. Semakin merah dan gelap warna daging, maka semakin banyak myoglobin yang terkandung di dalam. Itulah kenapa daging sapi (beserta daging domba, kambing, dan babi) digolongkan sebagai “ “. Selain itu, daging setengah matang masih memiliki kadar air yang lebih banyak ketimbang daging yang sudah matang sepenuhnya. Oleh karena itu, perpaduan antara myoglobin serta sisa air yang ada di dalam daging membuat steak mengeluarkan cairan merah yang selama ini dianggap darah.

Karena bukan darah,daging dengan tingkat kematangan medium rare tetap aman untuk dikonsumsi. Bahkan menyatakan bahwa tak perlu memasak daging hingga sangat matang untuk bisa dikonsumsi dengan aman. Asalkan, daging tersebut dimasak menyeluruh pada suhu minimal 62 derajat celsius.

Jadi, jangan ragu untuk mencoba makan steak yang setengah matang, asalkan pengolahan serta penyajiannya benar serta bersih. Namun, tidak semua daging merah setengah matang lantas aman dikonsumsi. Jika steak kamu terbuat dari daging giling, maka pastikan bahwa tingkat kematangannya sempurna alias well done.

Daging giling sudah mengalami proses produksi dan pemrosesan yang membuat semua bagiannya terkena peralatan yang belum tentu bersih dari bakteri. Itu sebabnya sangat besar peluangbakteritertinggal di dalam daging gilingketimbang dengan daging segar yang dipotong langding. Untuk olahan makanan dari daging giling, daging harus dimasak minimal pada suhu 71 derajat celcius.

Perlu diingat juga bahwa terlepas dari aman tidaknya mengonsumsi steak daging setengah matang, ada risiko kesehatan tersendiri yang mungkin kamu hadapi kalau kebanyakan makan daging merah. Badan Kesehatan Dunia (WHO telah menyatakan bahwa orang yangkebanyakan makan daging bakarmengalami peningkatan risiko terkena kanker hingga 30 persen.