Video Perseteruan Bupati Lumajang dengan Bupati Boltim Viral di Media Sosial, Ini Penyebabnya

0 Comments

Video antarkepala daerah adu mulut viral di media sosial. Dua kepala daerah yang bersitegang itu yakni Bupati Lumajang Thoriqul Haq dengan Bupati Bolang Mongondow Timur (Boltim) Sehan Salim Landjar. Setelah ditelusuri, ketegangan keduanya hanya karena ada lontaran kata bodoh kepada seorang menteri.

Thoriqul yang merupakan kepala daerah dari PKB ini tidak senang ketika Sehan Salim menyebut menteri bodoh. “Saya Cak Thoriq,BupatiLumajang, saya tentu kecewa bila ada seorang bupati mengatakan menteribodoh," ucap Thoriq dalam video tersebut. "Kalau tidak salah Bupati Bolang Mongondow Timur,” kata Thoriq.

Thoriq menilai para menteri sedang bekerja keras untuk menyelesaikan semua persoalan di seluruh daerah. “Kalau ada bupati menyatakan menteribodoh, jangan jangan dia enggak bisa mengurus daerahnya," ucapya. "Jangan jangan enggak bisa mengurus wilayahnya,” ujar Thoriq lagi.

Thoriq dalam video tersebut justru berterima kasih pada menteri yang telah melakukan upaya terbaik untuk masyarakat. Bupati Boltim Sehan yang merupakan kader PAN ini kemudian menanggapi video Thoriq. Sehan menilai dirinya merasa tidak boleh memberikan bantuan beras ke rakyatnya yang mendapat Bantuan Langsung Tunai (BLT), meskipun BLT nya belum tiba.

“Perlu diingatBupatiLumajang, anda cuma kasih lima kilo, saya minimal 15 kilo dan beras premium,” ujar dia. Selain itu, Sehan juga mengaku tidak memotong gaji PNS untuk bantuan tersebut. Sehan menilai Thoriq tidak tahu kondisi warga yang ada di Boltim.

“Anda tidak tahu, ratusan ribu (dikeluarkan) untuk mendapatkan uang Rp 600.000. Saya mencak mencak di situ,” terang dia. “Anda juga kasih sedikit, lalu kerja, kerja, kerja apa. Saya sudah 4 April udah mulai, anda baru mulai sekarang,” ucap dia. Terkait video yang viral,BupatiLumajangThoriq Haq menjelaskan, polemik tersebut bermula dari pernyataanBupatiBoltimSehanSalimLandjaryang dia nilai kurang pantas.

Pernyataan yang dimaksud, yaitu Sehan menyebut menteribodoh. Seharusnya, kata kata tersebut tidak muncul. “Prinsipnya, boleh protes dengan menteri, tapi kalau sampai menyebutbodoh,goblok, perlu dikoreksi,” kata Thoriq saat dihubungi Kompas.com (jaringan SURYA.co.id via telepon, Kamis (7/5/2020).

Thoriq menilai, di tengah pandemi Covid 19 ini, banyak masalah yang dihadapi oleh berbagai daerah. Namun, semua daerah sedang berupaya untuk memperbaikinya. “Kami juga berulang kali ada video conference dengan bupati, wali kota, gubernur, dan hampir semua kementerian,” terang dia.

Video conference untuk membahas serta mencari solusi masalah yang dihadapi. Termasuk soal anggaran, seperti Dana Alokasi Khusus (DAK) yang dikurangi karena pendapatan negara dan daerah sedang turun. “Sekarang hotel tidak ada yang menginap, pariwisata tutup, semua sekarang pendapatan turun,” jelas dia.

Pekerjaan harian juga dalam kondisi tidak normal. Untuk itu, perlu cara yang luar biasa untuk mengatasi dampak pandemi. Kondisi itulah yang harus dipahami oleh semua kalangan.

“Protes ya protes, kalau ada yang tidak sepakat dengan apa yang hari ini dilakukan programnya oleh kementerian, sampaikan saja, tapi jangan bilanggoblok, jangan bilangbodoh,” papar Thoriq. Selain itu, hal rumit lain yang merupakan kewajiban pemimpin, yaitu untuk berinovasi agar masalah bisa diatasi. Thoriq mencontohkanBupatiBoltimyang mengeluh rumit membuat tabungan untuk warganya.

“Masak segitu ribetnya membuat tabungan. Sekarang zaman sudah berubah, buka tabungan enggak perlu buku, pakai akun virtual,” jelas politisi PKB ini. Menurut dia, banyak cara yang bisa dilakukan untuk menyiasati rumitnya persoalan.

Selain kecanggihan teknologi, juga bisa turun langsung melalui kecamatan, tanpa harus ke kota. “Itu kalau dipikir ruwet ya ruwet, tapi kalau dipikir mudah ya mudah,” ujar Thoriq.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *